Senin, 02 Februari 2009

santri pun ikut peruntungan di antara muka-muka lama


Pertarungan antarcaleg DPRD Banten di masing-masing daerah pemilihan (dapil) di kabupaten/kota di Banten diwarnai pertarungan antara muka-muka lama. Namun ada segelintir santri yang juga ikut nimbrung.

AHMAD LUTFI-Serang

Pertarungan sengit tampaknya terjadi di daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang. Di daerah pemilihan Banten I ini ada nama-nama seperti KH Mas’a Toyib (PKS), Eten Hilman (PAN), Ubaidillah Kabier (PKB), SM Hartono dan Aden Abdul Khaliq (Golkar), E Hafadzah (PPP), Mahyar Musa (Demokrat), dan Ahmad Tsauqi Ma’ruf (PKNU). Nama terakhir yang disebut adalah putera KH Ma’ruf Amin, salah satu pengurus MUI Pusat yang berasal dari Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang. KH Ma’ruf Amin, juga tercatat sebagai Dewan Mutasyar DPP PKNU.

Nama Ahmad Tsauqi, adalah nama baru di pentas politik di Banten. Selama ini, dia tercatat sebagai pengelola pondok pesantren di Tanara. Munculnya Ahmad Tsauqi seolah-seolah munculnya sosok santri ‘kelas baru’ di pentas politik. Dia pun berusaha mencari peruntungan dengan menjadi caleg DPRD Banten.

Saat ditemui Radar Banten, Minggu (1/2), dia mengaku bahwa ketertarikannya menjadi caleg karena merasa terpanggil dengan kondisi Banten. “Sebagai warga Banten, kami ingin berbuat lebih nyata lewat jalur parlemen,” ujarnya.
Tentu tidak mudah bagi Tsauqi untuk merebut simpatik pemilih. Sebab dia harus berhadapan dengan sosok muka-muka lama dan beberapa pengusaha yang juga menjadi caleg untuk daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang. Tengok saja, misalnya, ada KH Mas’a Toyib, SM Hartono, E Hafadzah. Mereka ini adalah muka-muka lama karena masih menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Serang. Selain itu ada juga nama pengusaha seperti Eten Hilman yang akan menjadi pesaing Tsauqi. Eten dan Aden Abdul Khaliq (Golkar) tentu memiliki kekuatan finansial yang tidak kecil.

Selain Tsauqi, sosok yang juga besar dari kalangan pesantren adalah Ubaidillah Kabier (PKB). Dia adalah putera kH Kabier, pimpinan pondok pesantren di Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Dalam sejarahnya, KH Kabier termasuk sosok yang disegani di Banten. Namun berbeda dengan Tsauqi, Ubaidilah Kabier sudah merasakan ‘nikmatnya’ duduk di kursi parlemen. Sebab saat ini dia menjadi anggota DPRD Kabupaten Serang dari PKB. Lama lain yang juga layak disebut adalah Laode Asrarudin (Golkar). Laode juga adalah alumnus Pesantren Gontor, Jawa Timur. Saat ini, dia masih tercatat sebagai anggota DPRD Banten. Jadi, meski dari kalangan pesantren, namun Ubaidillah Kabier dan Laode bukan wajah baru. Keduanya adalah muka lama.
Sementara di daerah pemilihan Cilegon, tampaknya pertarungan tidak begitu sengit. Di sini, ada Irfan Maulidi (Ketua DPW PKS Banten), ada Anda Suhandoyono (PAN), Amin Mahtum (PKB), Ahmad Rusdi Arif (Golkar), Faozin Ali (PPP), Sabdo Waluyo (PDIP), dan sebagainya. Nama Faozin Ali, adalah sosok yang sempat menjabat sebagai Pjs Ketua DPW PPP Banten meski hanya empat hari. Saat itu, dia menggantikan posisi Dimyati Natasukusumah yang dinonaktifkan DPP PPP.

Di daerah pemilihan Lebak, pertarungan juga akan diwarnai dengan muka-muka lama. Ada Sanuji Pentamarta (PKS), H Anda (PKB), HM Sukira (PDIP), dan sebagainya. Sama dengan daerah pemilihan lain, pertarungan di Lebak juga tetap akan mengandalkan kekuatan jaringan. 
Sedangkan di daerah pemilihan Pandeglang pertarungan akan terjadi antara Toni Fatoni Mukson (PKB), HM Acang (Golkar), Yayat Supriyatna (PPP), Adang Sopandi (PDIP), dan sebagainya. Munculnya nama Acang, sebelumnya sempat menjadi pertanyaan sejumlah pihak. Sebab saat ini Acang masih mendekam di tahanan karena kesandung dugaan suap kasus pinjaman daerah pemkab Pandeglang di Bank Jabar Banten cabang Pandeglang.
Sosiolog IAIN SMH Banten HS Suhaedi mengatakan, munculnya sosok santri baru dalam pentas politik di Banten tidak menjadi jaminan mereka akan dipilih oleh masyarakat pemilih. Menurut Suhaedi, saat ini faktor keturunan tidak lagi menjadi penentu orang untuk menentukan pilihan politiknya. “Masyarakat pemilih simpel saja, yaitu pragmatis praktis. Sementara sosok caleg baru yang dari pesantren, tentu akan kebingungan menghadapi realitas ini. Hal ini tentu menyulitkan mereka eksis selain mengandalkan kepasrahan,” pungkasnya.

Kata Suhaedi, pertarungan sengit di semua dapil tetap akan dikuasai oleh muka-muka lama dan sebagian wajah baru yang didukung oleh kekuatan finansial. Muka-muka lama itu pun makin intensif melakukan pertemuan dengan masyarakat karena sebelumnya sudah memiliki basis massa. “Jadi masih sangat sulit mengharapkan caleg yang pure pesantren akan mentas dalam perpolitikan di Banten,” pungkas Suhaedi lagi.

Sementara itu berdasarkan data di KPU Banten, jumlah pemilih yang tercatat sebagai daftar pemilih tetap Pemilu 2009 di Banten sebanyak 6.564.270. Jumlah itu yang akan diperebutkan oleh caleg DPRD Banten. (*) 
Sumber: Radar Banten Senin, 02-Februari-2009

0 komentar:

Poskan Komentar